Sunday, August 21, 2005

Pretend

Mangamati Hamamah dan Nurul bermain setiap week end khususnya, seringkali membuat aku dan suami tertawa-tawa, membuat kami terkaget-kaget dengan segala tingkah mereka.
Hamamah dan Nurul seringkali berpura-pura melakukan sesuatu, kadang-kadang kami seperti melihat suatu pertunjukkan atau film yang dibintangi oleh kedua anak kami dengan segala khayalan atau imajinasi yang terbang kemana-mana.

Kadang mereka menjadi guru dan murid, seperti biasa sang guru adalah kakaknya, dan selalu dengan segala aturan yang musti diikuti oleh adiknya. Mereka akan memulai dari sebelum bel sekolah, lalu masuk ke kelas, dan berpura-pura belajar dengan tekun.
Saat ini mereka sedang melakukan kegiatan itu, Nurul sangat penurut, apa yang dikatakan kakaknya diikuti dengan baik.
Namun dia pun sering merasa kesal saat kakaknya mengkritik behwa cara dia berlari ke kelas salah," mustinya begini de...bukan begitu!" sambil menunjukkan caranya.
Memang perkara yang sepele, wajar bila sang adik marah, karena ternyata, Nurul hanya berlari saat kakanya berpura-pura membunyikan bel tanda masuk.
Setelah aku perhatikan, kakaknya bilang,
"larinya kesini dulu de, lalu kesana ke deket TV, terus balik lagi kesini, kan ceritanya lagi main, pas ada bel mau kekelasnya kan agak jauh, jadi agak lamaan gitu!"

Akhirnya Nurul melakukan apa yang disuruh kakaknya. Perdebatan masih berlangsung saat masuk kelas.
Kakak :"OK everybody, please give me your home work book!"
Nurul : "OK teacher" kata Nurul sambil memberikan buku yang ada di tasnya.
Kakak:" Ade, bukan yang itu bukunya, ceritanya ade gak kebawa bukunya, jadi nanti ade disuruh kedepan kelas buat dihukum kayak di SIS!"
Nurul : "Gak mau! ade kan sekolahnya di Brisbane, gak ada hukum-hukuman. jadi pake buku ini aza."
Kakak :"Ya udah, ceritanya ade murid baru aza, jadi gak apa-apa kalau ade gak ngerjain PR, kan gak tau!"
Ade :" Pokoknya gak mau, bukunya ini aja! kan cuma boongan kak!"
Kakak :"Kalau ade gak mau diatur, jangan ikutan main sekolahan aja..."

Kalau sudah begini, baru aku turun tangan buat bikin perdamaian atau deal buat keduanya. Mencoba untuk tidak menyalahkan salah satu dari mereka, mencoba mencari jalan keluar yang terbaik untuk mereka.

Kadang mereka berpura-pura dengan tema yang mereka angkat dari film anak-anak, Mathilda, baby days Out, Garfield, dll.
Atau dari kegiatan sehari-hari kami, sekolah, berbelaja ke mall, berkumpul dengan teman-teman Indonesia, acara ulang tahun, mengundang tamu kerumah untuk makan malam, atau diundang oleh kerabat, dan lain-lain.

Setiap saat cerita yang mereka bawakan selalu berubah-ubah dan beraneka ragam, dan selalu mereka tak pernah mau jika abi atau umminya ikutan, jadi kami selalu membiarkan mereka berkhayal dengan daya fikir mereka.
Tak jarang aku akan tertawa-atau tersenyum kecil mendengar obrolan mereka dari dapur.
Sering abinya tiba-tiba masuk kamar karena tak tahan untuk tertawa mendengarkan tingkah mereka.

Sampai saat aku tulis ini, perdebatan masih sering terdengar, dan selalu karena masalah yang sangat sepele.
Namun dengan belajar berdebat juga akan membuat mereka mampu mengeluarkan isi fikiran mereka dan harus mampu menerima pendapat orang lain yang berbeda.
Mengamati tingkah kedua anakku, mengamati proses belajar mereka, mengawasi kegiatan mereka agar tidak saling menyakiti, menengahi saat mereka butuhkan, dan lain sebagainya....merupakan kegiatan yang tak pernah bosan kunikmati setiap saat.

AND I BEGAN TO UNDERSTAND THAT SELF-ESTEEM ISN'T EVERYTHING, IT'S JUST THAT THERE'S NOTHING WITHOUT IT!

0 Comments:

Post a Comment

<< Home