Monday, August 15, 2005

Renungan suatu pagi

Suatu hari, kira-kira seminggu yang lalu. Satu kawanku, sama-sama orang tua murid di sekolah Hamamah terlihat sangat kesal di pagi yang masih dingin. Sesaat setelah kami bertegur sapa, dia akhirnya mengatakan kekesalannya.
Yang menarik, dia kesal pada dua orang anak sekolah, kelas tiga, yang saat itu bermain di play ground.
Duduk masalahnya ternyata, saat dia mengajak anaknya yang baru berumur 3 tahun, anak kelas tiga tersebut melarangnya untuk bermain di play ground, ketika dia bertanya mengapa, dengan santainya dia mengatakan " karena kamu cina!"
Dan ternyata pula, hal ini bukan untuk yag pertama kalinya, hal ini sudah berlangsung tiga hari berturut-turut...selama beberapa hari itu kawanku hanya diam, karena berfikir mungkin anak kelas tiga itu hanya bercanda atau tidak sungguh-sungguh mengatakannya.
Namun karena kejadiannya berulang kali, dan sang anak kelas tiga itu semakin agresif meledeknya, dia merasa tak bisa mentolerir lagi sikap anak tersebut.

Sampai saat aku berbincang dengan kawanku itu, sang anak kelas tiga yang berumur 8 tahun itu kembali mengucapkan kata-kata yang tak pantas buatnya. dan terjadilah percakapan yang cukup tegang antara Karen (kawanku) dan si anak.

A:" You can't play because you're not like me!"
Karen:"I will report you to the principall if you dont stop teasing me!"
A: " How you can report me when you dont know my name?"
Karen: "I will following you to the class and I can tell to your teacher first about what you did!"
A:"How can you following me? you carried your baby, so you can't catch me if I run away!"
Karen :"I still can following you, because I Won't take my eyes on you!"

Sampai disitu perbincangan terhenti, lalu anak itu pergi berlari, sambil berkata "Catch me if you can....!"
Namun Karen tak menggubris anak tersebut, sampai akhirnya anak itu menghampiri Karen dan mengatakan "if you want to report me, my name is Sabrina! so it will make easier for you to report me...
Kembali anak itu berlari entah kemana....
Tak ada kata maaf sedikitpun, tak ada kesadaran padanya bahwa dia sudah bersalah.

Aku yang sedari tadi diam menyimak perbincangan merasa tak habis fikir...tak pernah terpikirkan bahwa anak berumur 8 tahun mampu berbicara seperti itu...
Awalnya aku berfikir mungkin karena perbedaan budaya sangat mencolok...tapi aku pun mempunyai kawan yang berbeda budaya seperti ini, anaknya baik-baik saja, mereka mendidik anaknya sopan santun, berbicara yang baik, dll...namun saat kutemui kejadian antara Karen dengan Sabrina (yang ternyata bohong juga, setelah diselidiki nama sebenarnya Rachel) aku sempat tertegun...

Entah siapa yang harus dipersalahkan, orang tuanya kah? atau lingkungan yang membesarkannya? Atau tak ada yang salah?
Ada sedikit ketakutan pada diriku, ada keraguan pada diriku sendiri, menyangsikan akan kemampuanku dalam membesarkan dan mendidik anak-anakku.
Akan jadi apakah mereka? Dengan cara apa aku ajari mereka selama ini? Akan kubekali apa anak-anakku untuk masa depannya?
Sudah cukupkah apa yang kuberikan selama ini?
Sudah banyakkah ilmu yang kuberikan pada mereka?

Panjang sudah perjalanan mereka, dan masih panjangkah perjalanan yang mereka hadapi, mampukah mereka menghadapinya?
Akankah perjalan mereka terisi dengan hal-hal yang baik atau sebaliknya?
Tak ada orang tua yang menginginkan anak-anak mereka menjadi jelek jalannya.

Mudah-mudahan aku mampu memenuhi amanat Allah dalam merawat, membesarkan, mendidik, mengajari titipan yang diberikan. Sehingga mereka menjadi anak-anak yang soleh dan solehah . Karena anak adalah titipan Allah. Anak adalah karunia...

Rabbana hablana min adzwadzina wa zurriatina qurrata'ayunin waj'alna lil mutakina imaama



1 Comments:

  • duh teh, jadi kepikiran ntar kalo kezia mulai masuk sekolah...Gimana pengalaman teh ina selama ini dengan anak2...?

    By Blogger ...ina..., at 9:31 AM  

Post a Comment

<< Home